PONOROGO - Ada ada saja ulah sebagian warga Ponorogo ini, siang tadi terlihat mereka rame rame berswafoto dengan latar belakang carene pembangunan pasar legi. Mereka adalah Bu Parti, Pak Parman dan Mak Ti. Pedagang yang berdagang di pasar legi tersebut sebelum terbakar.

Kepada ponorogokita.com mereka mengaku seumur umur baru belihat crane, dan mereka sengaja mengabadikanya. "Ndeso ya mas, biar saja," celetuk salah seorang dari mereka, malu malu kepada kami. Tetapi yang jelas mereka mengaku bangga dengan pembangunan pasar tradisional berkonsep modern tersebut, sehingga mereka mengabadikanya dalam jepretan foto.

Dari pengakuan Pak Parman, crane tersebut merupakan crane pertama di Kabupaten Ponorogo. "Ya sebelum crane dilepas selesai apa salahnya saya abaikan, tahun depan sudah tidak ada lagi, biar jadi foto kenang kenangan,"  terangnya. Lebih lanjut, Ia berencana mencetakkan foto hasil jepretanya tersebut ke studio untuk dipasang dirumah nantinya.

Yang jelas mereka bangga dengan pasar legi dan berharap segera rampung pengerjaannya. Seperti diketahui sebelumnya, bahwa pasar legi ini nantinya akan menjadi yang pertama dan termegah di Indonesia. Satu satunya dengan konsep green building, 30 persenya merupakan ruang terbuka hijau. Nantinya bangunan pasar empat lantai ini dapat menampung 4000 pedagang. Selain itu lantai atas nantinya akan dibangun masjid megah dan tempat parkir.

Sehingga pasar ini nanti dari segi estetika sangat indah. Pasar yang sudah ada sejak jaman Batoro Katong ini, sebelumnya terbakar dan Pemkab Ponorogo membangun ulang. Namun proses dalam pembangunannya panjang, sempat diangarkan tiga kali. Pertama diangarkan dari APBD Ponorogo sebesar 90 milyar.

Dalam perjalanan waktu Bupati sempat menangis kepada Presiden Jokowi, untuk dibantu dalam pembangunan pasar tradisional sebesar 248 milyar. Karena pemkab ponorogo tidak memiliki cukup uang. Namun baru setahun kemudian direalisasi oleh pemerintah pusat sebesar 175 milyar dari APBN yang bangunanya bisa dilihat dan dikerjakan hari ini.

Sempat dalam perencanaan pernah diusulkan untuk diswastanisasi, namun Pemkab Ponorogo tidak setuju, tetap akan dikelola oleh pemerintah daerah, alasan Bupati Ipong, tidak ingin masyarakat dibebani sewa dan pembelian petak yang mahal, karena pemerintah tidak akan berbisnis dengan rakyatnya. Ucap Bupati pada saat prosesi mungah molo beberapa pekan lalu.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Ipong juga meminta kepada pihak perbankan yang hadir dalam prosesi mungah molo tersebut, memberikan kemudahan pinjaman kepada para pedagang, pinjaman yang tidak membebani. Pinjaman tanpa agunan. Agar masyarakat Ponorogo tidak terjebak rentenir. Pasar tradisional konsep modern greend holding 4 lantai tersebut nantinya bisa menampung 4000 pedagang, dan dapat menjadi sentra semua produk produk UMKM Desa juga. Kebayang, nantinya pasar legi ini semua ada yang dicari masyarakat. (ip/pk).